adakah terdengar juga di hatimu
nyanyian seribu kupu-kupu yang melayang di udara
nyanyian yang begitu tulus mengabarkan cuaca
musim ini
musim yang dengan tegar menantimu
pada serpihan kejora
yang tinggal kenangan di akhir cerita
izinkan aku wahai belenggu
melangkah pergi menjauhi telagamu
mengejar mimpi-mimpiku lagi
mimpi yang sempat kau selipkan di antara rimbun pelangi
dan aku candu akan dunia berjuluk maya
adakah terdengar juga di hatimu
kisah sesosok jelata
kisah tentang hatiku
Sabtu, 14 November 2009
Jumat, 13 November 2009
***
merpatiku,,,
jika angin menerbangkan anganmu
ajak aku bersamamu
karena langit yang selama ini kuselami
tak penah cukup
untuk membuatku berhenti
menjadikanmu sebagai aktor
dalam setiap naskah cintaku
jika angin menerbangkan anganmu
ajak aku bersamamu
karena langit yang selama ini kuselami
tak penah cukup
untuk membuatku berhenti
menjadikanmu sebagai aktor
dalam setiap naskah cintaku
**
Malam,,,,
bulanmu tak perak kali ini
ketika kucoba menjangkau anggunnya gulitamu
ada setitik kerinduan yang jalang di sana
garang, namun tak serumit kisahku
malam,,,,
kirimkan puisi ini unuk hujan yang entah menyaksikan bulanmu
atau sudah tertidu r menyendarkan keningnya di awanmu
bulanmu tak perak kali ini
ketika kucoba menjangkau anggunnya gulitamu
ada setitik kerinduan yang jalang di sana
garang, namun tak serumit kisahku
malam,,,,
kirimkan puisi ini unuk hujan yang entah menyaksikan bulanmu
atau sudah tertidu r menyendarkan keningnya di awanmu
Kecewa
karena aku telah jauh teseret lagemnya kekecewaan
sekecewa ngarai yang jauh dari buai
ada yang menyesak di dada seperti percikan api yang meluap-luap menginginkan kesejukkan
terandai aku mengerti dan amu mengerti
pasti ada jalan untukku berpijak melangkahkan hati ke tempat yang jauh lebih menyenangkan dari sekedar penanian tak berenda
atau keihklasan yang bisa mempertemukan siang dan malam
hingga senja bergulir begitu syahdu
seindah kemilau surga yang menjamah tiap desir aliran darahku
aku tak lagi bisa berkata apa setelah semua keteledoranku semakin erat mencengkram dan menyeretku jauh dan lebih jauh lagi
semula yang kurasa tiada daya semakin membuncah pecah
pemberontakan dimulai!
amarahku sudah siap bersidang
di puncak egoku kuteriakkan kekecewaanku
menggelegar nanar
pemberontakan dimulai!
hancurkan kenanganmu jadi arang
akulah si betina garang
lautan kekecewaan yang gersang
kita di medan perang
dan tak seorangpun bisa jadi kawan
sekecewa ngarai yang jauh dari buai
ada yang menyesak di dada seperti percikan api yang meluap-luap menginginkan kesejukkan
terandai aku mengerti dan amu mengerti
pasti ada jalan untukku berpijak melangkahkan hati ke tempat yang jauh lebih menyenangkan dari sekedar penanian tak berenda
atau keihklasan yang bisa mempertemukan siang dan malam
hingga senja bergulir begitu syahdu
seindah kemilau surga yang menjamah tiap desir aliran darahku
aku tak lagi bisa berkata apa setelah semua keteledoranku semakin erat mencengkram dan menyeretku jauh dan lebih jauh lagi
semula yang kurasa tiada daya semakin membuncah pecah
pemberontakan dimulai!
amarahku sudah siap bersidang
di puncak egoku kuteriakkan kekecewaanku
menggelegar nanar
pemberontakan dimulai!
hancurkan kenanganmu jadi arang
akulah si betina garang
lautan kekecewaan yang gersang
kita di medan perang
dan tak seorangpun bisa jadi kawan
*
Izinkan aku bertanya wahai perdu
Bertanya nama siapa yang terselipp di kantung bajumu
Namaku kah itu?
Karena kita tak pernah saling bicara
Aku jadi sulit mengeja nama siapakah itu
Tulisanmu jelek
Apa kau ingin mengikuti tulisan dokter?
Jelaskan padaku wahai perdu berkaki jenjang
Katakan bahwa itu namaku sebagai argumen terakhirmu
Bertanya nama siapa yang terselipp di kantung bajumu
Namaku kah itu?
Karena kita tak pernah saling bicara
Aku jadi sulit mengeja nama siapakah itu
Tulisanmu jelek
Apa kau ingin mengikuti tulisan dokter?
Jelaskan padaku wahai perdu berkaki jenjang
Katakan bahwa itu namaku sebagai argumen terakhirmu
Biarkan
lukaku belum selesai berbenah
ada lagi luka yang lain
merebak di titian sejarah
setiap kegamangan menyelinap di dadaku
namun belum sempat membusuk
ada lagi perih yang lain
merayap mencari celah gundahku
aku lelah...
biarkan aku berbaring di sini
empat air mataku menempel di sepanjang jalan
ada lagi luka yang lain
merebak di titian sejarah
setiap kegamangan menyelinap di dadaku
namun belum sempat membusuk
ada lagi perih yang lain
merayap mencari celah gundahku
aku lelah...
biarkan aku berbaring di sini
empat air mataku menempel di sepanjang jalan
Kamis, 12 November 2009
Kau
kau
lelaki bersayap keangkuhan yang mengetuk-ngetuk pintu malam
mambiarkan angin yang jatuh menggerai kerinduan
sumba yang tumpah di langit-langit kekar dadamu
di sanalah tempat kurakitkan hati
tapi siapakah kini yang menjaga damaimu?
karena kudengar separuh rasamu bersandar di beranda seorang putri
kuisakkan tangisku diam-diam lalu kubingkis dengan rapi
perih itu
yang kau kirimkan seperti pesta-pesta yang memilukan
mengantarkanku pada geangan asa
tempatku merampungkan kisahmu dalam puisi
hanya itu..........
lelaki bersayap keangkuhan yang mengetuk-ngetuk pintu malam
mambiarkan angin yang jatuh menggerai kerinduan
sumba yang tumpah di langit-langit kekar dadamu
di sanalah tempat kurakitkan hati
tapi siapakah kini yang menjaga damaimu?
karena kudengar separuh rasamu bersandar di beranda seorang putri
kuisakkan tangisku diam-diam lalu kubingkis dengan rapi
perih itu
yang kau kirimkan seperti pesta-pesta yang memilukan
mengantarkanku pada geangan asa
tempatku merampungkan kisahmu dalam puisi
hanya itu..........
Langganan:
Postingan (Atom)
