Kamis, 19 November 2009

DAN AKU MENUNGGU

Aku pun juga begitu
Tak puas-puas meretas bayangmu dari pilar-pilar megah yang kita bangun musim lalu

Aku pun juga begitu
Sering kali tidurku terusik oleh bayangmu yang berlarian di kedua bola mataku

Aku pun juga begitu
Dilanda demam yang sangat saat bayangmu absen dari keteledoranku

Aku pun juga begitu
Takut kehilangan bayangmu hingga tak kubiarkan ada cahaya lain yang merenggutmu dari arusku

Aku pun juga begitu
Berharap tak ada bayangan lain yang merangkul bayangmu

Aku pun juga begitu
Berharap kelak ada secarik waktu yang mengantarmu bicara padaku
Bicara tentang masa depan yang entah bertengger di abad keberapa
Dan aku menunggu

Selasa, 17 November 2009

Agustus di Bumi Kencana

ketika waktu mengantarku berlabuh di Bumi Kencana
tanah lapang berhiaskan batu-batu kembar
kulihat tak ada senyum menyembul dari balik nisan-nisan garuda
kudengar mereka masih mengantri menagih janji
janji garuda-garuda masa depan

ada kobar semangat di balik timbunan tanah
ada ribuan asa bergejolak membuncah
ada riak-riak tangis seperti rinai hujan tertindih sedih

mana janji kalian hai muda-mudi?
masih sebegitu lelapkah mimpi kalian untuk membangun negeri?
bangun hai garuda-garuda bangsa
sekarang bukan waktunya terbuai zaman
sudah cukup tanah pertiwi sendiri membungkam luka
wujudkan mimpi kami
mimpi Indonedia untuk menjadi bangsa yang perkasa
bukan cuma gedung-gedung, jalan atau pun kendaraan yang jadi pedoman

sejenak angin berbisik hening
khusuk memanjatkan doa yang tak habis-habisnya
dan aku bagai perdu
menunggu agustus yang lain di Bumi Kencana

Minggu, 15 November 2009

Bumi Kencana

Penyair Sepi

belum pernah aku serapuh ini
meniti bulir-bulir hari
mungkin karena aku sudah terlanjur terbiasa
akan hadir pesan-pesanmu
hingga saat kau tak ada
aku merasa seperti penyair sepi
hanya bisa melipat kata-kata dalam puisi

Sabtu, 14 November 2009

Rindu yang Begitu Keruh

dan rindu pun mulai berjatuhan satu-satu
setelah letih kusembunyikan wajahmu lama sekali
hari ini
pada cermin kutemukan kembali sosokmu
dengan tubuh bias membaur dengan cahaya

seperti ingin aku berucap pada laut
dalam sajak yang menggebu
bertanya apakah engkau yang sering singgah di sini
duduk dan mengajakku menikmati jingga yang berkibar di mega-mega

namun ini terlalu klise
sukar bagiku menebak rindu yang begitu keruh

SeVenteN jaLaN terBaiK

Semua telah berakhir
Tak mungkin bisa dipertahankan
Hanya luka jika kita bersama
Karma jalan ini memang berbeda

*Semua yang terjadi
tak akan kembali
jalan kita memang berbeda
Namun hati ini tak ingin kembali

Reff:
Ku yakin kita akan bahagia
Tanpa harus selalu bersama
Tak perlu di sesali
Tak usah di tangisi

Ku yakin ini jalan terbaik
Walau kita tak lagi berdua
Tak perlu di sesali
Tak usah di tangisi

Kehilangan Nyawa

kita kehilangan nyawa sedetik yang lalu
semuanya kacau
semua aktivitas terhenti hanya karena kehilangan nyawa
kita yang sombong dengan segala fasilitas canggih hanya bisa terdiam
gelap
panas
sunyi
membosankan!

tapi tenanglah
kucing punya sembilan nyawa
sekejap otak-otak cerdas kita berkelana mencari solusi
dan......... yap!!!
beres!

sekarang terang benderang dengan lampu berlabel impor di sana-sini
dingin dengan hembusan oksigen segar dari benda kotak bernama AC
ramai dengan suara nyaring nan gaduh dari sound system bergaya konser

suasana embali hidup untuk beberapa waktu
sebelum kita kembali kehabisan nyawa